Selamat Datang Jiwa - Jiwa Merah Putih!!

Kamis, 08 Maret 2012

Filosofi dalam karate


1. Karate:: tangan kosong
2. Karate-do wa rei ni hajimari, rei ni owaru koto wo wasuruna:: dalam karate mulai dengan sebuah sikap hormat (rei) dan berakhir dengan sebuah sikap hormat.
3. Karate ni sente nashi.:: tidak ada sikap menyerang lebih dulu dalam karate
4. Karate wa gi no tasuke:: karate adalah sebuah pertolongan kepada keadilan.
5. Mazu jiko wo shire, shikoshite tao wo shire.:: pertama kenali dirimu sendiri baru orang lain
6. Gijutsu yori shinjutsu:: pertama semangat, kedua teknik.
7. Kokoro wa hanatan koto wo yosu:: bersiaplah untuk membebaskan pikiranmu.
8. Dojo nomino karate to omou na:: berlatih karate tidak hanya didalam dojo (tempat latihan).
9. Karate no shugyo wa issho de aru.:: akan menghabiskan seluruh hidupmu untuk belajar karate.
10. Arai-yuru mono wo karate-ka seyo, soko ni myo-miari.:: atasi masalahmu dengan smangat karate
11. Karate wa yu no goto shi taezu natsudo wo ataezareba moto no mizu ni kaeru:: karate sama dengan air panas. Jika tidak kau berikan panas yang tetap maka air itu akan kembali dingin.
12. Katsu kangae wa motsu na makenu kangae wa hitsuyo:: jangan berpikir masalah menang dalam pertarungan tapi pikirkan bagaimana agar kau tidak kalah dalam pertarungan.
13. Tekki ni yotte tenka seyo:: rahasia pertarungan tersembunyi dalam seni yang mengarahkannya.
14. Tattakai wa kyo-jitsu no soju ikan ni ari:: bergeraklah mengikuti sesuai dengan lawanmu.
15. Hito no te ashi wo ken to omoe:: pikirkan bahwa kedua tangan dan kakimu adalah pedang
16. Danshi mon wo izureba hyakuman no tekki ari.:: segera setelah kau tinggalkan rumah untuk bekerja pikirkan bahwa jutaan lawan tengah menunggumu.
17. Kamae wa shoshinsha ni ato wa shizentai.:: pemula pertama-pertama harus menguasai kuda-kuda dan sikap badan rendah, posisi badan yang alamiah/wajar untuk tingkat lanjut.
18. Kata wa tadashiku jissen wa betsu mono.:: berlatih kata adalah satu hal dan menghadapi sebuah pertarungan nyata adalah hal yang lain lagii
19. Chikara no kyojaku, karada no shinshuku, waza no kankyu wo wasasuna.:: jangan lupa (1) aplikasi ringan dan berat dari kekuatan (2) meregangkan dan mengerutkan badan (3) cepat dan lambat dari teknik
20. Tsune ni shinen kufu seyo.:: carilah cara dan senantiasa berlatih sepanjang waktu.

 
FILOSOFI OBI (SABUK) 

Pertama, sabuk putih. Sabuk putih (kyu 10) melambangkan kemurnian dan kesucian. Kemurnian dan kesucian ini merupakan kondisi dasar dari pemula untuk menerima dan mengolah hasil latihan dari guru masing-masing. Artinya berkembang atau tidaknya karateka ini tergantung dari apa yang diberikan oleh senpai atau sensei mereka. Kemudian, setelah materi atau nilai karate telah disampaikan sesuai dengan apa yang seharusnya, selanjutnya tanggung jawab ada pada masing-masing individu.

Kedua, sabuk kuning (kyu 8). Tingkatan kedua ini melambangkan warna matahari yang diibaratkan bahwa karateka telah melihat “hari baru” dimana dia telah mampu memahami semangat karate, berkembang dalam karakter kepribadiannya dan juga teknik yang telah dipelajari. Sabuk kuning juga merupakan tahapan terakhir dari seorang "raw beginner" dan biasanya sudah mulai belajar tahapan-tahapan gerakan kumite bahkan ada juga yg mulai turun di suatu turnamen

.Ketiga, sabuk hijau (kyu 6). Sabuk ini merepresentasikan warna rumput dan pepohonan. Pemegang sabuk hijau ini sudah harus mampu memahami dan menggali lebih dalam lagi segala sesuatu yang berkaitan dengan karate seiring dengan bertumbuhnya semangat dan teknik gerakan yang sudah dikuasainya. Sifat dari warna hijau ini adalah pertumbuhan dan harmoni. Dengan demikian seorang karateka sabuk hijau diharapkan dalam proses pertumbuhannya mulai bisa memberikan harmoni dan keseimbangan bagi lingkungan.

Keempat, sabuk biru (kyu 4). Warna sabuk ini melambangkan samudera dan langit. Artinya karateka harus mempunyai semangat luas seperti angkasa dan sedalam samudera. Karateka harus sudah mampu memulai berani untuk menghadapi tantangan yang dihadapinya dengan semangat tinggi dan berfikir bahwa proses latihan adalah sesuatu yang menyenangkan dan bisa merasakan manfaat yang didapatkan. Karateka harus sudah bisa mengontrol emosi dan berdisiplin.

Kelima, sabuk coklat (kyu 3-1). Warna sabuk ini dilambangkan dengan tanah. Sifat warna ini adalah stabilitas dan bobot. Artinya seorang karateka pemegang sabuk coklat mulai dari tingkatan kyu 3 sampai 1 harus bisa memberikan kestabilan sikap, kemampuan yang lebih dari pemegang sabuk di bawahnya, dan juga sikap melindungi bagi junior-juniornya. Selain itu, sikap yang harus dimiliki adalah sikap menjejak bumi (down to earth) dan rendah hati pada sesama.

Keenam, sabuk hitam (dan). Warna hitam sendiri melambangkan keteguhan dan sikap kepercayaan diri yang didasari pada nilai kebaikan universal. Warna sabuk ini menjadi idaman bagi setiap karateka untuk mendapatkannya. Namun, di balik semua prestise sabuk hitam terdapat tanggung jawab besar dari karateka. Pada tahap ini, pemegang sabuk hitam mulai dari Dan 1 sampai selanjutnya sebenarnya baru memasuki tahap untuk mendalami karate yang lebih mendalam. Teknik maupun penguasaan makna hakiki dari kebaikan nilai karate sudah harus menjadi bagian dari karateka. (penggambaran Gichin Funakohsi).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar